Sejarah Kalender Hijriyah dan Keutamaan Bulan Muharram
- Isra Al-Mukhtar

- Aug 11, 2021
- 2 min read

Bismillahirohmanirohim....
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Sejarah Tahun Baru Islam bermula ketika seorang Gubernur yang bernama Abu Musa Al-Asyari mengirimkan sepucuk surat kepada Khalifah Umar bin Khattab. Ia mengeluh dalam surat itu tentang penanggalan surat yang tidak memiliki tahun, hanya sekedar tanggal dan bulan saja. Hal inilah yang menyulitkannya saat penyimpanan dokumen atau pengarsipan.
Akhirnya Umar bin Khattab menyusun kalender yang baru. Ia memanggil beberapa sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf RA, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam RA, Sa’ad bin Waqqas dan Thalhan bin Ubaidillah. Mereka kemudian merundingkan penyusunan kalender Islam.
Dalam musyawarah tersebut, mereka sepakat untuk menggunakan kalender pra-Islam sebagai basis yang nantinya disempurnakan lagi. Dalam proses penyempurnaan ini, terdapat berbagai pendapat yang diberikan oleh para sahabat seperti menggunakan kelahiran Nabi Muhammad sebagai patokan awal kalender Islam. Ada lagi yang berpendapat menggunakan peristiwa Isra’ Mikraj sebagai dasar awal kalender Hijriyah.
Namun, pendapat yang diterima adalah pendapatnya Ali bin Abi Talib. Ia berpendapat bahwa penanggalan seharusnya dimulai pada saat peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Mekkah ke Yatsrib. Alasan diterimanya pendapat ini karena peristiwa hijrah melambangkan perpindahan dari masa Jahiliah menuju masa terang benderang yakni Islam. Karena itulah kalender Islam yang baru ini dinamakan kalender Hijriyah.
Keutamaan Bulan Muharram
1. Bulan Haram Berperang

Bulan Muharam merupakan salah satu bulan haram. Allah SWT. berfirman:
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. (QS. At Taubah : 36)
Empat bulan haram yang dimaksud adalah bulan Zulqaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Pada bulan ini penuh dengan kesucian. Salah satu kesucian pada bulan ini adalah diharamkannya peperangan. Terkecuali jika diserang duluan, maka peperangan di bulan ini di halalkan.
2. Bulan Allah

Keutamaan bulan Muharram yang kedua adalah, bulan ini disebut sebagai syahrullah (bulan Allah). Rasulullah SAW. bersabda:
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim)
Alasan kenapa disebut bulan Allah adalah karena pada bulan ini diharamkan berbagai pembunuhan. Maksudnya adalah pembunuhan yang dilakukan dalam bulan ini akan mendapatkan dosa yang lebih besar. Pada bulan ini juga larangan perbuatan maksiat lebih ditegaskan daripada bulan-bulan biasa.
3. Puasa Tasu’a dan Asyura

Puasa Tasu'a merupakan puasa yang dilaksanakan pada 9 Muharram. Sementara, Puasa Asyura adalah puasa yang dilaksanakan pada 10 Muharram. Puasa Tasu’a dan Asyura merupakan puasa sunah yang berarti adalah mendapat pahala apabila dikerjakan, dan apabila ditinggalkan tidak berdosa. Keutamaan Puasa Asyura adalah dapat menghilangkan dosa setahun silam seperti dengan hadist berikut ini:
“Rasulullah SAW ditanya tentang puasa di hari Asyura, maka beliau menjawab : ‘Puasa itu bisa menghapuskan (dosa-dosa kecil) pada tahun kemarin’”
Itulah penjelasan singkat tentang Sejarah Kalender Hijriah dan bulan Muharram. Insya Allah jika kita kerjakan dengan ikhlas maka kita akan mendapatkan pahala dan juga syafaat dari Allah Swt. Dan semoga kelak di suatu hari nanti kita akan bertemu dengan baginda kita Nabi Muhammad SAW. Amiin
Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai Maulid Nabi, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, karena kesempurnaan hanya dimiliki oleh Allah Swt. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.





Comments